Rabu, 23 Oktober 2013

Hukum Karma

Hukum Karma: Kepercayaan tentang adanya Hukum Karma.Ada yang berpendapatbahwa kepercayaan itu menyebabkan orang hidup pesimis. Katanya karena karmadi mas...

Selasa, 27 Agustus 2013

Hari Galungan

Selamat Hari Raya Galungan oktober 2013 *,"''*, *:, * *:, * *:, ''¤'' *:, ''iii'' *:, (*//*) ...""... " 0SA" Dengan hati yg tulus kami sek ~Mengucapkan~ Selamat HR GALUNGAN &KUNINGAN. Semoga Ida Sang Hyang Widhi ngincenin kerahayuan lan keharmonisan , om shanty sianty, shanty

Senin, 29 April 2013

PANDE TAMBLINGAN

Pande Pada Jaman Bali Kuno
Kelompok atau komunitas Pande di Bali telah jelas eksistensinya sebelum jaman Bali Kuno, tetapi mereka tidak membentuk klan atau warga ataupun soroh seperti pada jaman Bali Madya, yang meliputi kurun waktu abad XIII s/d abad XIV. Jaman Bali Madyaberakhir dengan jatuhnya kekuasaan kerajaan yang terpusat di gelgel sebagai akibat pembrontakan PatihAgung Maruti pada tahun 1685 M.
Kendatipun belum terhimpun dalam warga atau soroh, pekerjaan memande dikerjakan secara turun temurun oleh Pande saja. Mereka pada umumnya mendapatkan perlakuan istimewa dari para raja, misalnya dibebaskan dari beberapa jenis pajak, karena kemuliaan hasil karya mereka yang sangat diperlukan oleh raja dan seluruh masyarakat.
Profesi memande dan komunitas Pande telah muncul dalam: 1. Prasasti Trunyan A1, bertahun 813 S (Saka). Selanjutnya keberadaan komunitas Pande bertebaran jumlahnya pada berbagai prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja yang berlainan dalam kurun waktu yang membentang selama tiga abad pemerint

Silsilah Warga Pande Di Bali

Warga Pande Di Bali
Kedatangan para pande di Bali seiring kedatangan para penguasa yang datang dari seberang/luar pulau Bali. Sejarah menyatakan bahwa pada abad-abad VII-VIII M di Balidikuasai oleh raja-raja dari dinasti Sanjaya dari kerajaan Mataram (Jawa Tengah). Tetapi jauh sebelum itu pengingalan-peningalan arkeologi membuktikan di pulau Balidihuni oleh para pande yang hidup dalam masyarakat pada zaman itu (zaman Bali mula ).
Pada zaman prasejarah di Bali masyarakat mengeal peti dari batu yang bernama sarkopagus yang digunakan untuk menyimpan mayat orang yang semasa hidupnya yang sangat berpengaruh. Ini membuktikan bahwa alat-alat yang dipakai untuk membuat sarkopagus tersebut adalah buatan para pande yang telah menghuni pulau bali pada zaman prasejarah yaitu pada zaman pra Hindu.
Desa Trunyan Kintamani sebagai desa tua yang keberadaanya diyakini paling tua di Bali telah hidup pada zaman megalitik yaitu jauh sebelum masehi dan juah sebelum kedatangan Hindudi Bali mereka memiliki kepercayaan bahwa Dewa te

Sabtu, 27 April 2013

Bhisama Pertama

Bhisama Pertama
Tentang Pura Besakih dan Pura Penataran Pande di Besakih
Bhisama pertama, berupa bhisama agar Warga Pande tidak lupa menyungsung Pura Besakih dan Pura Penataran Pande di Besakih. Bhisama ini dipesankan dengan tegas oleh Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala di Pura Bukit Indrakila sebagai berikut : ”Mangke hiyun ira turun ing Besaki. Didine ane Penataran Pande. Kita aywa lupa bakti ring kawitan ring Besakih”. (Sekarang kupesankan kepadamu, pergilah engkau ke Besakih. Disana ada Penataran Pande. Jangan lupa sujud bakti kepada kawitanmu di Besakih).
Apa akibatnya kalau Warga pandelupa nyungsung Ida Betara Kawitan yang berstana di Pura IdaRatu Bagus Pande di Besakih ? marilah kita resapkan dan camkanBhisama Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala berikut :”Warahakena katekeng mahagotranta, ri wekas inget-inget aja lali. Yan kita lipya ngaturanga panganjali ring Bhatara Kawitan, tan wun kita kabajrawisa de paduka Bhatara, sugih gawe kurang pangan”. (sebarluaskanlah kepada keluargabesarmu, sampai ke

BHISAMA PANDE KE II

Bhisama kedua
Tentang Ajaran Panca Bayu
Bermakna agar warga pande memahami ajaran Panca Bayu yang diajarkan oleh Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala pada pertemuan dan dialog imajiner mereka di Pura Indrakila. Panca Bayu adalah ajaran kekuatan yang sangat penting bagi mereka yang melakoni Dharma Kapandeyan. Panca Bayu juga sangat penting bagi pengendalian diri untuk mengenal fungsi-fungsi atau kekuatan anggota badan tertentu.Uraian beliau tentang Panca bayu kepada Brahma Dwala adalah sebagai berikut : ”Ndi hingaran Panca Bayu. Panca Bayu ngaran APANA, PRANA, SAMANA, UDHANA, BHYANA. Apana ngaran bayu saking weteng, mwang kakembungan, yatika jambangan. Prana ngaran bayu metu saking peparu, humili amarga lenging grana, yatika hububan, pinaka pamurungan. Samana ngaran bayu metu saking hati, ghni ring sarira. Udhana ngaran bayu saking siwadwara, yatika pinaka uyah. Bhyana ngaran bayu humili saking sarwa sandi pupulakna ring pupu, yatika pinaka landesan.Ndi kang pinaka palu-palu? Tapak tangan ta. Jariji kang pinaka sepit”. (mana yang dimakasud dengan Panca Bayu. Panca Bayu adalah apana, prana, samana, udhana dan bhyana. Apana adalah kekuatan dari perut atau juga disebut tempat air. Prana adalah kekuatan dari paru-paru berada ditengah tengah dada, yang berfungsi sebagai pengububan yang mengeluarkan udara yang berfungsi untuk menghidupkan api dalam pekerjaan memande. Samana adalah kekuatan yang keluardari hati, adalah api yang bertempat dalam badan manusia. Udhana adalah kekuatan dari siwadwara, itulah ibarat garam. Bhyana adalah kekuatan gaib, yang memeberi kekuatan kepada paha yang berfungsi sebagai landesan atau paron. Lantas yang manakah berfungsi sebagai palu? Adalah tanganmu. Jerijimu berfungsi sebagai sepit)

BHISAMA PANDE KE III

Bhisama Ketiga
Tentang Asta Candhala
Bhisama ketiga mengenai larangan atau pantangan atau perbuatan yang harus dihindari, yatiu perbuatan asta candhala, agar warga pande berhasil menjadi pemimpin manusia utama.
Pada waktu dialog imajiner yang berlangsung di Pura Indrakila, Mpu Siwa Saguna berujar kepada Brahmana Dwala: “nghing yogya kita hangamong wwang uttama, tingalaken asta candhala, away rumaketing sariranta. Ndi ingaranasta candhala, prakyaksakna pangrengonta, nihan lwirnya (apabila engkau ingin menjadi pemimpin yang utama, hindari asta candhala, jangan biarkan mengikat dirimu. Yang manakah disebut astha candala, camkanlah): 1. amahat, ngaran manginum amdya, metu mawero (minum minuman keras yang memabukan); 2. amalanathing, ngaran maka balandhang jejuden (menjadi bandar judi); 3. anjagal, ngaran amati mati pasa, madwal daging mentah (membunuh binatang dan menjadi penjual daging mentah); 4. amande lemah, ngaran akarya payuk pane (membuat periuk dan barang tembikar lain dari tanah); 5. anyuledang, ananggap upah nebuk padi (menjadi tukang tumbuk padi); 6. anapis, ngaran amangan sesaning wwang len (makan makanan sisa orang lain); amurug papali ngaran (jangan melanggar pantangan) 7. amangan klalatu (makan laron/dedalu) 8. iwak pinggul ngaran dedeleg (ikan gabus atau jeleg).
tegasnya warga Pande tidak boleh makan dedalu dan dedelg