Senin, 29 April 2013

PANDE TAMBLINGAN

Pande Pada Jaman Bali Kuno
Kelompok atau komunitas Pande di Bali telah jelas eksistensinya sebelum jaman Bali Kuno, tetapi mereka tidak membentuk klan atau warga ataupun soroh seperti pada jaman Bali Madya, yang meliputi kurun waktu abad XIII s/d abad XIV. Jaman Bali Madyaberakhir dengan jatuhnya kekuasaan kerajaan yang terpusat di gelgel sebagai akibat pembrontakan PatihAgung Maruti pada tahun 1685 M.
Kendatipun belum terhimpun dalam warga atau soroh, pekerjaan memande dikerjakan secara turun temurun oleh Pande saja. Mereka pada umumnya mendapatkan perlakuan istimewa dari para raja, misalnya dibebaskan dari beberapa jenis pajak, karena kemuliaan hasil karya mereka yang sangat diperlukan oleh raja dan seluruh masyarakat.
Profesi memande dan komunitas Pande telah muncul dalam: 1. Prasasti Trunyan A1, bertahun 813 S (Saka). Selanjutnya keberadaan komunitas Pande bertebaran jumlahnya pada berbagai prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja yang berlainan dalam kurun waktu yang membentang selama tiga abad pemerint

Silsilah Warga Pande Di Bali

Warga Pande Di Bali
Kedatangan para pande di Bali seiring kedatangan para penguasa yang datang dari seberang/luar pulau Bali. Sejarah menyatakan bahwa pada abad-abad VII-VIII M di Balidikuasai oleh raja-raja dari dinasti Sanjaya dari kerajaan Mataram (Jawa Tengah). Tetapi jauh sebelum itu pengingalan-peningalan arkeologi membuktikan di pulau Balidihuni oleh para pande yang hidup dalam masyarakat pada zaman itu (zaman Bali mula ).
Pada zaman prasejarah di Bali masyarakat mengeal peti dari batu yang bernama sarkopagus yang digunakan untuk menyimpan mayat orang yang semasa hidupnya yang sangat berpengaruh. Ini membuktikan bahwa alat-alat yang dipakai untuk membuat sarkopagus tersebut adalah buatan para pande yang telah menghuni pulau bali pada zaman prasejarah yaitu pada zaman pra Hindu.
Desa Trunyan Kintamani sebagai desa tua yang keberadaanya diyakini paling tua di Bali telah hidup pada zaman megalitik yaitu jauh sebelum masehi dan juah sebelum kedatangan Hindudi Bali mereka memiliki kepercayaan bahwa Dewa te

Sabtu, 27 April 2013

Bhisama Pertama

Bhisama Pertama
Tentang Pura Besakih dan Pura Penataran Pande di Besakih
Bhisama pertama, berupa bhisama agar Warga Pande tidak lupa menyungsung Pura Besakih dan Pura Penataran Pande di Besakih. Bhisama ini dipesankan dengan tegas oleh Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala di Pura Bukit Indrakila sebagai berikut : ”Mangke hiyun ira turun ing Besaki. Didine ane Penataran Pande. Kita aywa lupa bakti ring kawitan ring Besakih”. (Sekarang kupesankan kepadamu, pergilah engkau ke Besakih. Disana ada Penataran Pande. Jangan lupa sujud bakti kepada kawitanmu di Besakih).
Apa akibatnya kalau Warga pandelupa nyungsung Ida Betara Kawitan yang berstana di Pura IdaRatu Bagus Pande di Besakih ? marilah kita resapkan dan camkanBhisama Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala berikut :”Warahakena katekeng mahagotranta, ri wekas inget-inget aja lali. Yan kita lipya ngaturanga panganjali ring Bhatara Kawitan, tan wun kita kabajrawisa de paduka Bhatara, sugih gawe kurang pangan”. (sebarluaskanlah kepada keluargabesarmu, sampai ke

BHISAMA PANDE KE II

Bhisama kedua
Tentang Ajaran Panca Bayu
Bermakna agar warga pande memahami ajaran Panca Bayu yang diajarkan oleh Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala pada pertemuan dan dialog imajiner mereka di Pura Indrakila. Panca Bayu adalah ajaran kekuatan yang sangat penting bagi mereka yang melakoni Dharma Kapandeyan. Panca Bayu juga sangat penting bagi pengendalian diri untuk mengenal fungsi-fungsi atau kekuatan anggota badan tertentu.Uraian beliau tentang Panca bayu kepada Brahma Dwala adalah sebagai berikut : ”Ndi hingaran Panca Bayu. Panca Bayu ngaran APANA, PRANA, SAMANA, UDHANA, BHYANA. Apana ngaran bayu saking weteng, mwang kakembungan, yatika jambangan. Prana ngaran bayu metu saking peparu, humili amarga lenging grana, yatika hububan, pinaka pamurungan. Samana ngaran bayu metu saking hati, ghni ring sarira. Udhana ngaran bayu saking siwadwara, yatika pinaka uyah. Bhyana ngaran bayu humili saking sarwa sandi pupulakna ring pupu, yatika pinaka landesan.Ndi kang pinaka palu-palu? Tapak tangan ta. Jariji kang pinaka sepit”. (mana yang dimakasud dengan Panca Bayu. Panca Bayu adalah apana, prana, samana, udhana dan bhyana. Apana adalah kekuatan dari perut atau juga disebut tempat air. Prana adalah kekuatan dari paru-paru berada ditengah tengah dada, yang berfungsi sebagai pengububan yang mengeluarkan udara yang berfungsi untuk menghidupkan api dalam pekerjaan memande. Samana adalah kekuatan yang keluardari hati, adalah api yang bertempat dalam badan manusia. Udhana adalah kekuatan dari siwadwara, itulah ibarat garam. Bhyana adalah kekuatan gaib, yang memeberi kekuatan kepada paha yang berfungsi sebagai landesan atau paron. Lantas yang manakah berfungsi sebagai palu? Adalah tanganmu. Jerijimu berfungsi sebagai sepit)

BHISAMA PANDE KE III

Bhisama Ketiga
Tentang Asta Candhala
Bhisama ketiga mengenai larangan atau pantangan atau perbuatan yang harus dihindari, yatiu perbuatan asta candhala, agar warga pande berhasil menjadi pemimpin manusia utama.
Pada waktu dialog imajiner yang berlangsung di Pura Indrakila, Mpu Siwa Saguna berujar kepada Brahmana Dwala: “nghing yogya kita hangamong wwang uttama, tingalaken asta candhala, away rumaketing sariranta. Ndi ingaranasta candhala, prakyaksakna pangrengonta, nihan lwirnya (apabila engkau ingin menjadi pemimpin yang utama, hindari asta candhala, jangan biarkan mengikat dirimu. Yang manakah disebut astha candala, camkanlah): 1. amahat, ngaran manginum amdya, metu mawero (minum minuman keras yang memabukan); 2. amalanathing, ngaran maka balandhang jejuden (menjadi bandar judi); 3. anjagal, ngaran amati mati pasa, madwal daging mentah (membunuh binatang dan menjadi penjual daging mentah); 4. amande lemah, ngaran akarya payuk pane (membuat periuk dan barang tembikar lain dari tanah); 5. anyuledang, ananggap upah nebuk padi (menjadi tukang tumbuk padi); 6. anapis, ngaran amangan sesaning wwang len (makan makanan sisa orang lain); amurug papali ngaran (jangan melanggar pantangan) 7. amangan klalatu (makan laron/dedalu) 8. iwak pinggul ngaran dedeleg (ikan gabus atau jeleg).
tegasnya warga Pande tidak boleh makan dedalu dan dedelg

BHISAMA PANDE KE IV

Bhisama keempat
Larangan memakai tirtha sulinggih lainnya
Bhisama keempat, adalah bhisama Mpu Siwa Saguna kepada Brahmna Dwala mengenailarangan menggunakan tirtha dari sulinggih lainnya. Larangan ini sama sekali bukan didasari oleh niat merendahkan atau melecehkan sulinggih dari keturunan yang lain (bukan warga Pande). Tetapi menyangkutbeberapa hal prinsip yang harus dipahami oleh warga Pande. Warga Pande sangat menghormati dan memuliakan setiap sulinggih dari warga/sorohapapun beliau berasal.
Bhisama itu berbunyi: ” yan kita angupakara sawa, aywa kita weh aminta tirtha ring brahmana panditha. Ngong anugraha kita riwekas, samangda kita tan kanarakan ” (kalau engkau mengupacarai mayat, jangan meminta tirtha dari brahmana Pandita, aku peringatkan engkau agar engkau tidak sengsara di kemudian hari).
Selanjutnya; ” mwah yan kita mayadnya suka mwang duka, aywa nurunakna tirtha brahmana.Nguni kawitan ta kita madiksa widhi krama minta nugraha ring paduka bhatara. Mangkana kengeta. Aja lali, weruhakna mwang sanak ir

BHISAMA PANDE KE V

Bhisama Kelima
Tentang Pesemetonan Warga Pande
Bhisama kelima adalah Bhisama yang Mpu Siwa Saguna Kepada Brahmna Dwala, di Pura Bukit Indrakila, sebagai berikut;”Mangkana kengeta, aja lali wruhakena wwang sanakta kabeh. Kita sadaya ajwa lupa ring kajaten, duk ring Yambhu dwipa turun ka Yawa dwipa, tan len Sira Mpu Brahma Wisesa kawitan sira Pande kang ana wayeng Bali-pulina. Kita mangke asanak ring Pande kabeh. Aywa ngucap ming telu, sadohe ming ro. Tan ana sor tan ana luhur, tunggal pwa witnis nguni, kadi anggan ing pang ning kayu-kayu mara jatin ira. Ana awah ana juga tan pawah. Kalingania mangkana jugakita asanak, tan dai angadol kadang. Aja amumpang laku, aywa arok ring wwang hina-laksana”. (ingatlah selalu, jang lupa dengan seluruh keluargamu. Kita tidak boleh lupa dengan jati diri, sejak dari India, sampai ke pulau Jawa, tidak lain Mpu Brahma Wisesa leluhurmu termasuk yang ada di pulau Bali. Kalian semuanya keturunan Pande. Kalian adalah sedarah daging. Jangan merasa memindon (saudara tingkat III) sejauh-jauhnya adalah memisan (saudara tingkat II). Tidak ada yang lebih rendah, tidak ada yang lebih tinggi. Seperti pohon ada yang berbuah ada yang tidak berbuah (bernasib baik-tidak bernasib baik). Tetapi kalian semua tetap bersaudara, tidak boleh menjual saudara. Jangan berbuat tidak baik, jangan sombong pada orang yang tidak baik.
Begitu pentingnya pesemetonan ini, sehingga banyak dijumpai dalam babad-babad Pande, salah satunya Babad Pande Besi, Pratataning Kaprajuritan Wilwatikta. Terdapat Bhisama MpuSiwa Saguna kepada putranya Arya Kapandeyan yang disampaikan kembali kepada Lurah Kapandeyan. ”Kaki anak ingsun Lurah Kapandeyan rengwakena pawarah mami ring kita. Mangke katekeng wekas, wenang kita amretingkah wong, angamet penatak bahan, mwang pangapih, mwang papincatan, lawan tutuwangan, wenang ksatriyan putusing sanyahnyah irakabeh, katekeng wekas. Aja arok kita, elingakena kadadenta ksatriyan. Aja adoha akadang-kadang, wenang kinumpulaken, apan mulaniya sthiti sawiji andaadi akweh. Sadoh-doh akadang, muliha andadi ming ro. Aja angangken ming tiga, wenangamisan aming rwa. Kunang yan ana pratisantan ta angangken aming tiga, yadyapin sadoh-dohnya, wong amurug anhagu ngaraniya. Kna sodan ingsun bwating upadrawa. Wastu, wastu,wastu pariwastu, kna sodan ira Bhatara Sinuhun”. (anakku Lurah Kapandeyan, dengarkanlah bhisamaku. Sekarang dan seterusnya, berhak engkau mengurusi orang. Memegang tiang penyangga, mengeluarkan aturan, menghukum dan lain-lain pekerjaan seorang ksatriya, sampai kelak dikemudian hari. Janganlah sombong, ingat dirimu adalah seorang ksatriya. Janganlah sampai bercerai berai, semuanya harus bersatu, karena asalnya adalah tunggal kemudian menjadi banyak. Sejauh-jauhnya bersaudara, paling jauh adalah memisan. Jangan mengaku memindon, tetapi memisan. Kalau ada yang mengaku memindon, apalagi lebih dari itu berarti melanggar bhisamaKu. Kena kutukanku, semoga, semoga, semoga. Semoga juga kena kutukan Bhatara Sesuhunan.
Demikian juga Mpu Siwa Saguna memberikan peringatan bagi yang melanggar pesemotan Pande. ”Kunang mwah sentanan ta apan pada madoh-madohan, pawarah juga ya katekeng wekas,didinya pada eling ring titi gegaduhan, amanggehaken kawangsan. Lamakania pada asih apadang, aja lipya kadang, kna upadrwa ingsun”. (karena keturunanKu tinggal berjauhan, ingatkan kepada mereka sampai kelak, dirinya harus ingat dengan pekerjaan, memegang teguh wangsa Pande. Haruslah saling mengasihi, jangan lupa pada pesemetonan, bila tidak kena kutukanKu).